Home Ibu dan Anak 7 Tanda Bullying Pada Anak

7 Tanda Bullying Pada Anak

291
0

7 Tanda Bullying Pada Anak

7 tanda bullying pada anakBullying adalah masalah yang serius. Terutama pada anak-anak yang menjadi korbannya. Bullying ini akan memberikan dampak negatif terhadap perkembangan mentalnya.

Tentunya sebagai orangtua, tidak ingin anaknya menjadi korban bullying. Namun terkadang, orangtua tidak terlalu memperhatikan keadaan anaknya, sehingga anak terlambat untuk ditolong. Nah, karena itu cuters ada tujuh tanda, agar Anda mengenali dan mengetahui apakah anak Anda termasuk korban bullying atau tidak.

 

  1. Ada luka yang tidak jelas penyebabnya
    Memar, benjolan dan cedera yang berusaha disembunyikan anak harus menjadi perhatian utama. Ingatkan anak bahwa tidak ada yang berhak menyakiti mereka. Dorong mereka untuk menceritakan apa yang terjadi kepada Anda. Informasi itu dibutuhkan untuk dapat ditangani bersama para pejabat sekolah dan mengakhiri penindasan.
  2. Pakaian Compang-camping, robek, hilang
    Jika anak kembali dari sekolah dengan keadaan pakaian yang compang-camping, robek, atau ada barang miliknya yang hilang tanpa penjelasan masuk akal, sebaiknya Anda menyelidiki kemungkinan penyebabnya dengan cara yang tepat dan mendukung.
  3. Menderita penyakit fisik
    Sakit kepala, sakit perut, dan pura-pura sakit untuk menghindari sekolah bisa menjadi indikasi adanya trauma emosional. Bullying dapat secara negatif memengaruhi kesehatan fisik dan emosional anak, sehingga Anda harus waspada terhadap penyebabnya.
  4. Tidak mau pergi ke sekolah
    Jika anak Anda adalah siswa yang memiliki prestasi bagus di sekolah dan tiba-tiba kehilangan minat untuk pergi ke sekolah atau prestasinya mulai menurun, sebaiknya Anda berbicara dengan anak dan gurunya tentang kemungkinan penyebabnya. Guru mungkin dapat memberikan penjelasan yang bisa Anda pahami berkaitan dengan hubungan anak dengan teman-temannya.
  5. Suka menyakiti diri sendiri
    Karena malu dan bingung, banyak korban bullying sulit meminta bantuan. Jangan pernah mengabaikan gejala-gejala seperti menyakiti diri sendiri , pembicaraan tentang bunuh diri atau melarikan diri, atau perilaku berbahaya lainnya.
  6. Menjadi Rendah diri atau minder
    Jangan pernah mengabaikan kecemasan, depresi atau tanda rendah diri yang muncul tiba-tiba sebagai “gangguan atau kesulitan” emosi di usia remaja, karena setiap perilaku stres apa pun membutuhkan perhatian orangtua dengan segera. Bangunlah komunikasi yang baik dengan anak, sehingga mereka merasa cukup aman untuk berbicara secara terbuka dan jujur tentang ketakutan yang mereka alami.
  7. Lebih suka menyendiri
    Jika anak mulai mengisolasi diri dari teman dan keluarga, ambil langkah yang tepat untuk mengetahui apa alasannya. Apakah anak Anda terlibat perselisihan dengan teman-temannya? Apakah dia mengalami penindasan? Apakah teman-temannya  menyerangnya? Jika anak tampaknya tidak nyaman dengan serentetan pertanyaan Anda, cobalah pendekatan yang lebih halus seperti , “Siapa teman yang selalu menghabiskan waktu bersamamu di sekolah?” dan “Bagaimana sejauh ini di sekolah?”

STOP BULLYING! Gerakan ini terus dan selalu digencarkan karena maraknya kasus yang terjadi, terutama di sekolah. Sekolah bukan tempat menimba ilmu malah menjadi momok yang menakutkan. Bullying bisa terjadi di mana saja, tanpa Anda sadari. Praktiknya pun beragam, yang melakukannya pun bukan hanya teman sebayanya. Karena itu, untuk menghentikannya, perlu kerjasama antara sekolah, orangtua, siswanya dan lingkungan sekitar.

 

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here