Home Ibu dan Anak Bunda Yuk Kenali Tanda Anak Pubertas

Bunda Yuk Kenali Tanda Anak Pubertas

61
0

Dr Aditya Suryansyah SpA dari Klinik Remaja RSAB Harapan Kita, mengatakan remaja adalah fase terakhir dari masa anak-anak. Anak-anak adalah mereka yang berusia sejak lahir hingga usia 18 tahun. Masalah yang ditangani di Klinik remaja adalah anak usia 10-18 tahun. Setelah melalui fase anak-anak, dan mulai memasuki masa remaja maka orangtua harus memperhatikan tanda awal pubertas yang berbeda-beda pada setiap anak. Awal pubertas pada anak perempuan adalah payudara yang membesar, bukan menstruasi.

“Menstruasi menjadi tanda pubertas sudah selesai dan selanjutnya hanya menyempurnakan. Menstruasi terjadi 2-3 tahun setelah masa pubertas, dan setelah menstruasi seoarang anak tidak bisa bertambah tinggi, paling bertambah 1-2 cm lagi,” jelas dr Adit di Jakarta, baru-baru ini.

Sedangkan pada anak laki-laki pubertas ditandai dengan pembesaran testis, dan tanda akil balik berupa bukan mimpi basah. Mimpi basah seperti halnya menstruasi pada perempuan adalah tanda akhir pubertas pada anak laki-laki. Tidak seperti pada anak perempuan, dibutuhkan 3-4 tahun setelah akhir pubertas baru anak laki-laki akan bertambah pesat pertambahan tinggi badannya, atau di usia SMP.

Semua perubahan fisik yang menadai pubertas ini dipengaruhi kondisi hormonal. Waspadai pubertas dini atau pubertas terlambat yang menunjukkan adanya kelainan. Faktor yang berperan dalam awal pubertas tergantung etnis, kondisi sosial, nutrisi, aktivitas, penyakit kronis, psikologi. Semua fakor ini menentukan awal pubertas, lebih cepat atau terlambat.

Awal pubertas pada anak perempuan adalah antara 8-13 tahun dan 9-14 tahun untuk anak laki-laki. Patokan ini penting untuk memantau keterlambatan atau pubertas terlalu cepat. Jika di bawah batas usia tersebut sudah mulai muncul tanda-tanda pubertas maka anak mengalami pubertas dini. Demikian pula kalalu di atas umur tadi belum ada tanda-tanda pubertas dikatakan pubertas terlambat. Tetapi selalu ada variasi normal, di mana ada anak setelah pubertas tetap kecil namun dengan pertumbuhan stabil, karena memang secara warisan dari kedua orangtuanya memang tidak bisa tinggi. Perlu diwaspadai adalah hipoganadism yakni tidak berkembangnya hormone pertumbuhan dan hormone seks, dan juga sindrom Turner.

“Semua gangguan ini harus dicari pencetusnya. Untuk pubertas dini diatasi dengan menghentikan pubertasnya sehingga anak tumbuh normal. Kalau terlambat dilihat apakah memang normal atau variasi genetik. Terapi hormonal hanya diberikan jika memang terbukti ada kekurangan hormone. Terapi paling efektif adalah di bawah usia 12 tahun sebelum tulang si anak berhenti tumbuh,” paparnya

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here