Home Ibu dan Anak Kecerdasa Linguistik Pada Anak Harus Dikembangkan

Kecerdasa Linguistik Pada Anak Harus Dikembangkan

195
0

Pandai berbicara, gemar bercerita dan dengan tekun mendengarkan cerita atau membaca, merupakan tanda anak yang memiliki kecerdasan linguistik yang menonjol. Kecerdasan ini menuntut kemampuan anak menyimpan berbagai informasi yang berarti berkaitan dengan proses berpikir.

Bunda, keterampilan semacam itu memang tidak terjadi sendirinya. Akarnya bermula ketika anak mulai meraba yang kemudian dilanjutkan dengan ketika ia mencoba mengucapkan kata di usia kira-kira satu tahun. Kemudian, kemampuan berbahasa anak meningkat diusia kedua. Ketika ia mulai belajar mengucapkan kata dengan tepat dan efektif.

Tak panda berbahasa = tak cerdas?

Orang tua kerap menganggap bahwa anaknya masih balita tetapi sudah terampil berbicara atau pintar sekali berbicara, berarti cerdas dalam segala hal. Berbicara akan meyangkut logika. Yakni, bagaimana seorang anak merangkai urutan peristiwa menjadi informasi yang ingin ia sampaikan, dengan menggunakan kata yang tepat untuk membentuk kalimat yang efektif sehingga dapat dimengerti oleh orang lain, tentunya melibatkan keterampilan berpikir. Namun anak cerdas berbahasa belum jaminan ia juga cerdas di bidang lain, seperti logika matematika, cerdas musik, atau gerakan tubuh. Demikian pula sebaliknya, anak cerdas di sutu bidang lain, belum tentu cerdas di bidang linguistik.

einstein

Contoh paling nyata adalah Albert Einstein yang masa kecilnya mengalami keterlambatan bicara cukup parah. Ia baru benar-benar dapat berbicara di usia 10 tahun. Namun, begitu bukan berarti Einstein tidak melakukan pengamatan apapun di lingkungannya. Justru dalam kebungkamannya ia lebih cermat mengamati dan mengkonseptualisasi dunia. Sampai ditemukan teori relativitas yang menggemparkan di zamannya yang sampai sekarang masih digunakan.

Sekalipun banyak anak yang menunjukkan kesulitan pada aspek fonologi (bunyi huruf), salah satu masalah yang juga ditemui anak adalah melemahnya komponen bahasa yang lain, seperti ketidakpekaannya di bidang tata bahasa diperoleh dengan menirukan kalimat.

sartre

Jean Paul Sartre, filsuf dan sastrawan Prancis yang hidup di tahun 1905 – 1980 bisa jadi, merupakan contoh paling ekstrem dan hanya ada satu diantara berjuta-juta manusia. Di usia 5 tahun, Sartre mencapai tingkat kematangan berbicara seperti orang dewasa. Ekspresi, gaya dan isi pembicaraanya menyerupai orang dewasa. Ia mampu membuat orang mendengarkannya bicara dengan kefasihannya berbahasa. Tak lama kemudia, di usia 9 tahun, sartre menyelesaikan sebuah buku. Ia menemukan identitas dirinya dlama menulis, saat ia mengekspresikan dirinya dengan kertas dan tinta.

Berbahasa Perlu Diasah

Sejak lahir, bayi manusia sudah memiliki keinginan untuk berbicara. Menangis dan menggerakkan tubuh merupakan usaha bayi untuk menyampaikan keinginannya. Potensi kecerdasan berbahasa yang dimiliki seorang anak, hanya akan tinggal potensi bila tidak dilatih atau dikembangkan. Bisa saja anak tampak begitu tampil ketika masih balita, tetapi kemudian menghilang di usia-usia selanjutnya. Pola asuh dalam hal ini sangat berpengaruh. Anaj yang tidak diberikan kesempatan berbicara atau selalu dikritik saat mengemukakan pendapatnya, kemampuannya akan menghilang seiring berjalannya waktu.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here