Home Unik Esai Oase sastra di Bojonegoro

Oase sastra di Bojonegoro

404
0

Oase sastra di Bojonegoro
kenapa saya mengatakan hal seperti ini?

Ketika saya berusaha mencari orang-orang yang hebat di luar sana. ternyata di dekat saya ada sebuah oase yang tak kalah hebat dari yang ada di luar kota Bojonegoro.

Yup, aku ketemu dengan budayawan Bojonegoro. wah, gak nyangka ya ternyata di kota kecil kita memiliki orang-orang yang bergelut di sastra. menciptakan jenis sastra baru pula. sastra etnik.

sastra etnik adalah sastra yang merupakan dari gabungan dari bahasa Indonesia dengan bahasa daerah. 

Pencetusnya adalah Pak ARIEYOKO. Beliau adalah mantan jurnalis di Republika yang terakhir. Beliau ini mengalami kehampaan setelah pensiun dan pindah ke desa. beliau hanya menanti terbit dan tenggelamnya mentari. tanpa ada sebuah gairah untuk menikmati hidup. kemudian barulah beliau mencari dan terus mencari apa yang hilang dari hidupnya. Benar! Yang hilang dari hidupnya adalah menulis

menulis bagi jurnalis bukanlah hal yang baru tetapi menulis sastra tentu berbeda dengan menulis sebuah laporan. Sastra jauh lebih bebas. jauh lebih menyenangkan. Ya! Pak Arieyoko ini mendapatkan kegembiraan hidup setelah dia berkecimpung di dunia sastra. terutama satra jawa.

baginya bahasa jawa itu perlu dilestarikan dibudayakan. memang betul bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan tetapi bahasa indonsia bukanlah bahasa kebudayaan.

Beliau mulai menulis puisi dengan bahasa jawa, yang lebih dikenal dengan Geguritan.

Saya malu, karena saya tak mengerti bahasa daerah saya sendiri. Ini karena pola asuh dari orangtua saya yang memang bahasa sehari-harinya menggunakan bahasa indonesia.

Ayah saya sendiri lebih mahir bahasa sunda daripada bahasa jawa :D. karena sejak lulus Sd beliau sudah di Jakarta.

Kembali ke geguritan ini. Pak Arieyoko mengatakan, bahwa sastra itu perlu dipanggungkan. Kita sebagai penulis tidak boleh hanya berpangku tangan. sastra haru dipanggungakn supaya lebih mengena makkna dari puisi tersebut.

Dalam sastra ada tiga hal yang berpengaruh. Creator, Kritkus, konsumen.

creator adalah orang yang menghasilkan karya. Creator memiliki hak bebas dalam mengeluarkan karya-karyanya.

Kritikus adalah orang yang ahli atau pakar dalam bidang sastra. dia menguasai banyak teori tentang sastra. Keberadaan kritikus ini penting sekali di mana sebuah karya yang menurtnya bagus akan dipublikasikan sedemikian rupa, mendapatkan penghargaan.

Konsumen adalah masyarakat yang membaca dan menikmati hasil karya. Mereka bebas menyatakan suka dan tidak suka. Ditangan konsumenlah sebuah nasib sebuah karya. Apakah ia akan membuming atau ia terlupakan?

Seperti yang Pak ARIEYOKO bilang, 

“Karya kita akan menemukan jalan sejarah hidupnya sendiri”

Suwe ora ketemu..

Becik ora ketemu

Mengko aku mundak nesu

Sliramu lan aku podho padhu

Asu…

Ini hanya penggalan dari puisi yang ditunjukkan kepada kami melalui rekaman dari hp nya. Menurtnya kita harus menjadi penulis yang bisa memanfaatkan teknologi untuk berkarya. facebook misalnya. Lebih baik penuh dengan hasil karya kita. Karena itu menunjukkan diri kita sebenarnya.

*di tengah-tengah suasana itu saya berusaha menangkap pesan dari geguritan itu. dan hasilnya hanya sepuluh persen. selebihnya saya tidak tahu…

Saya berusaha jujur dengan penilaiannya saya. Bukan saya tak menghormati. tetapi kemampuan visual saya jauh lebih bagus daripada harus mendengar.

walaupun saya juga harus bertanya tentang beberapa arti kata dari geguritan yang tidak saya pahami.

Sekilas tentang hari sabtu…

mencoba untuk mendokumentasikan yang ada di kepala ^^

biar tidak hilang ditiup angin 😀

Bojonegoro, 14 Oktober 2012

 

SHARE