Home Unik Otak dan Tubuh Seseorang Yang Sedang Jatuh Cinta

Otak dan Tubuh Seseorang Yang Sedang Jatuh Cinta

122
0

Bagaimana rasanya jatuh cinta? Sebagian orang merasakan adanya sensasi ‘kupu-kupu di dalam perut’, ada pula yang berpendapat ‘berjuta rasanya’ atau ‘tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata’.

Dilansir dari Wollipop faktanya, deskripsi jatuh cinta sebenarnya bisa dijelaskan secara ilmiah. Apa yang terjadi pada tubuh ketika seseorang jatuh cinta, berkaitan dengan fungsi tubuh serta hormon manusia.

Berdasarkan penelitian Dr. Stephanie Ortigue, profesor di Syracuse University, New York, AS, cinta memang benar bisa muncul pada pandangan pertama dan itu terjadi hanya dalam lima detik. Stephanie pun menjelaskan fakta menarik, bahwa perasaan romantis bukan berasal dari hati melainkan otak.

Otak akan bereaksi terhadap romantisme seperti halnya ketika orang berada dalam pengaruh kokain. Saat seseorang jatuh cinta, 12 area di dalam otak akan saling terhubung, melepaskan senyawa-senyawa kimia pemicu rasa bahagia seperti oksitosin, dopamin dan adrenalin.

Kombinasi tiga hormon ini akan menghasilkan euforia pada bagian yang berhubungan dengan fungsi kognitif otak. Fungsi kognitif ini mengatur kemampuan seseorang dalam merangkai kata kiasan, pemahaman bahasa, memroses respon visual juga pencitraan tubuh. Menariknya, semua proses itu bisa berlangsung hanya dalam kedipan mata.

Dr. Stephanie telah memahami bagaimana otak dan tubuh bereaksi saat seseorang jatuh cinta melalui sebuah percobaan ilmiah. Dalam eksperimen tersebut, partisipan diperlihatkan nama dan foto masing-masing orang yang mereka sayangi dengan sepenuh hati. Di saat yang sama, aktivitas sel-sel otak mereka juga dilihat menggunakan alat pemindai listrik.

Setelah melihat foto-foto orang yang dicintai, terjadi percepatan aktivitas pada area otak yang berhubungan dengan rasa penghargaan dan euforia. Area ini juga bereaksi ketika seseorang menggunakan obat-obatan. Aktivitas otak itu terjadi pada partisipan pria maupun wanita.

Namun dari hasil penelitian tersebut, timbul satu pertanyaan. Jika rasa cinta muncul pada pandangan pertama, bagaimana dengan pasangan yang jatuh cinta setelah berteman lama? Kenapa euforia dan gejolak itu tidak terasa saat pertama kali mereka bertemu?

Seperti dikutip dari Your Tango, batasan antara cinta pada pandangan pertama dan cinta yang tumbuh seiring berjalannya waktu mungkin berlandaskan pada sebuah kesadaran. Rasa sayang itu mungkin sudah muncul sesaat ketika keduanya bertemu namun euforia –yang efeknya mirip seperti konsumsi kokain– baru terjadi setelah mereka bersama-sama dalam waktu yang lama.

Hasil penelitian Dr. Stephanie juga mengungkapkan fakta lainnya. Cinta, bisa datang sekejap pada pandangan pertama. Tapi sayangnya, perlu waktu lama bahkan hingga bertahun-tahun untuk melupakannya.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here