Home Kesehatan Umbi Talas, Alternatif Pengganti Nasi

Umbi Talas, Alternatif Pengganti Nasi

392
0

Umbi Talas, Alternatif Pengganti Nasi

Umbi Talas, Alternatif Pengganti Nasi

Masyarakat kita mengonsumsi nasi, roti, mie dan sereal sebagai sumber karbohidrat. Sebagian produk pertanian ini adalah bahan pangan impor sehingga harganya relatif mahal.

Nah, Umbi-umbian seperti talas bisa menjadi alternatif sumber kalori yang murah dan mudah didapat. Umbi yang bernama latin Umbi Colocasia esculenta L. dilihat dari kandungan karbohidratnya, bisa dijadikan akternatif sebagai pengganti nasi. Talas juga kaya akan nutrisi lain, seperti protein dan mineral esensial.

Kandungan Nutrisi Talas

Seperti halnya umbi-umbian yang lain, nutrisi terbanyak di dalam talas adalah karbohidrat. Komponen karbohidrat di dalam talas berupa pati yang kandungannya mencapai 77.9 persen. Kandungan amilopektin yang tinggi di dalam talas menjadikan rasa dan tekstur talas menjadi lengket dan pulen seperti beras ketan. Pati di dalam talas memiliki sifat yang mudah dicerna, cocok dijadikan makanan lansia atau menu diet pasca sakit.

Kandungan nutrisi lain yang cukup berati di dalam talas adalah protein. Dibandingkan dengan singkong dan ubi jalar, kandungan protein talas setingkat talas lebih tinggi. Setiap 100 g talas mengandung 1.9 g protein, sedangkan singkong mengandung 1.2 g dan ubi jalar 1.8 g. Kandungan protein di dalam talas mengandung beragam asam amnino esensial namun rendah histidin, lisin, isoleusin, triptofan dan metionin, karenanya variasikan umbi talas dengan bahan lain seperti kacang-kacangan untuk meningkatkan sumber peoteinnya.

Selain protein, talas juga kaya akan vitamin dan mineral esensial. Seperti vitamin C, kalsium, fosfor dan zat besi. Meskipun bukan zat gizi, kandungan serat di dalam talas juga cukup tinggi. Kehadiran serat sangat baik untuk menjaga kesehatan saluran pencernaan.

Menyebabkan Gatal?

Hampir semua jenis umbi-umbian umumnya mengandung oligosakarida terutama rafinosa. Oligosakarida ini tidak dapat dicerna oleh usus halus dan akan masuk ke usus besar. Di dalam usus besar, rafinosa akan difermentasi oleh mikroflora dan menghasilkan gas metan, karbon dioksida dan hidrogen. Akumulasi  terbentuknya gas selama proses fermentasi akan menyebabkan timbulnya flatulensi dan buang angin.  Namun jangan berkecil hati, dengan proses pemasakan seperti digoreng, direbus dan dikukus, senyawa rafinosa di dalam talas akan direduksi dan mengurangi efek flatulensi.

Sebagian orang juga enggan mengonsumsi talas karena menimbulkan gatal-gatal. Hal ini disebabkan karena di dalam talas mengandung  kalsium oksalat. Senyawa ini berbentuk kristal menyerupai jarum dan bersifat tidak larut dalam air sehingga seringkali tersisa selama proses pemasakan yang tidak sempurna. Untuk  mereduksi kalsium oksalat dapat dilakukan dengan pemasakan hingga matang benar serta merendam di dalam larutan asam klorida.

Pengganti Nasi Hingga Lauk

Di pasaran banyak dijual beragam jenis talas, seperti talas bogor, talas pandan, talas mentega, talas ketan dan talas loma. Masing-masing talas ini memiliki bentuk dan cita rasa yang agak berbeda.

Hampir seluruh bagian tanaman talas bisa dimakan. Daun talas bisa dimasak menjadi pembungkus masakan buntil. Batang talas bisa diolah menjadi sayur sedangkan umbinya bisa dimasak menjadi nasi talas, prekedel talas, sayur talas, gulai talas, keripik talas hingga talas goreng.
Selain diolah dalam keadaan segar, umbi talas juga bisa diolah menjadi tepung talas. Caranya dengan mengeringkan umbi talas dan dihaluskan hingga berbentuk tepung. Penggunaan umbi talas lebih beragam seperti, menjadi subtitusi bahan roti, kue kering, cake, brownies hingga dijadikan bahan utama kue talam dan kue lumpur.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here